Ad Clicks :Ad Views : Ad Clicks :Ad Views : Ad Clicks :Ad Views : Ad Clicks :Ad Views : Ad Clicks :Ad Views : Ad Clicks :Ad Views : Ad Clicks :Ad Views :
Alo Sehat

Hidup Sehat Bebas Obat Selamanya!

    Tekanan Darah Normal: Berapa Seharusnya Tensi Darah Normal Orang Dewasa?

    /
    /
    /
    719 Views

    Tekanan darah atau tensi darah adalah suatu standar untuk mengukur seberapa kuat pompaan darah dari jantung ke seluruh tubuh manusia. Agar organ manusia bisa bekerja dengan normal dan semestinya, maka tekanan darah normal pun harus bisa dicapai. Pertanyaannya: Berapa tensi darah normal bagi orang dewasa agar tubuh bisa sehat selalu?

    Tekanan Darah Normal: Berapakah Seharusnya Tensi Darah Normal Manusia?

    Dalam kondisi si empunya badan sehat, artinya tidak sedang menjalani pengobatan, atau mengonsumsi obat-obatan, juga tidak dalam keadaan terserang virus, bakteri, dan kuman, ahli medis menetapkan bahwa batas bawah tekanan darah normal manusia adalah 90/60 mmHG, dan batas atas tensi darah normal manusia adalah 120/80 mmHG.

    Apa maksudnya angka-angka tersebut?

    tekanan darah normal tensi darah normal
    Seorang Wanita Sedang Diukur Tekanan Darahnya

    Angka yang disebutkan terlebih dahulu, dalam hal ini adalah 90 dan 120, artinya adalah tekanan ketika otot jantung memompa darah ke seluruh tubuh manusia. Dalam bahasa kedokteran disebut tekanan Sistolik.

    Sementara angka yang disebutkan di belakang, dalam hal ini adalah 60 dan 80, adalah tekanan darah ketika otot jantung sedang ber-relaksasi sejenak sebelum kembali memompa darah ke seluruh bagian tubuh manusia. Dalam bahasa kedokteran disebut tekanan Diastolik.

    Angka yang didapat dari hasil pengukuran tensi darah selalu berubah-ubah, tergantung situasi dan kondisi badan si empunyanya. Tidak pernah ada tekanan darah yang bisa konsisten.

    Contohnya, apabila kamu sehabis melakukan olahraga, jantung tentu berdebar-debar kan? Nah biasanya tekanan darah yang diukur pada saat itu juga akan naik, karena otot jantung lebih kuat memompa darahnya untuk menunjang aktivitas fisikmu.

    Sebaliknya, ketika kamu bangun tidur pagi, tentu tubuhmu habis istirahat panjang, maka jika diukur tekanan darah pada saat itu akan menunjukkan angka tensi yang lebih rendah daripada sesudah berolahraga.

    Mood atau keadaan emosi, pikiran, dan perasaan kamu juga turut bisa mempengaruhi hasil tensi darah lho. Contohnya jika kamu hampir celaka, tentu jantungmu deg-degan kan? Nah pada saat itu tensi darahmu pasti naik.

    Atau jika kamu sedang dalam kondisi marah, juga pasti naik. Karena itu sering kita mendengar orang yang tiba-tiba kolaps sesudah marah-marah. Biasanya orang tersebut memang sudah menderita hipertensi sebelum dia marah-marah.

    Stress, banyak pikiran, dan masalah juga bisa mempengaruhi naiknya tensi darah, dan juga kadar gula darah.

    Bahkan posisi pada saat pengukuran tekanan darah juga turut mempengaruhi hasilnya. Contohnya, pengukuran dengan posisi berbaring dengan posisi duduk bisa menghasilkan pengukuran tensi yang berbeda.

    Yang harus kamu perhatikan adalah JIKA angka yang didapat tinggi atau rendah itu terus konsisten sepanjang waktu, tak peduli apapun aktivitas fisikmu, kondisi emosimu, kapanpun diukur dia selalu menunjukkan angka tensi yang tinggi atau rendah, maka kamu wajib konsultasi ke dokter.

    Angka hasil pengukuran tekanan darah yang lebih tinggi dari 120/80 mmHG berarti kemungkinan besar kamu terkena penyakit tekanan darah tinggi, atau disebut Hipertensi. Dan jika angka hasil pengukuranmu menunjukkan angka yang lebih rendah dari 90/60 mmHG, maka kemungkinan besar kamu menderita tekanan darah rendah, alias Hipotensi.

    Jadi, jangan panik dulu jika kamu mendapati bahwa dalam 1 pengukuran tensi, hasil pengukuranmu terlalu tinggi atau rendah. Karena yang perlu diwaspadai adalah kalau hasil tersebut konsisten sepanjang waktu.

    Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi)

    Sebelum kita membahas kondisi hipertensi, ada baiknya kita mengenal dulu kondisi pra-hipertensi.

    Pra-Hipertensi adalah kondisi jika hasil pengukuran tekanan darah Sistolik berada di angka 120-139. Keadaan ini masih belum bisa disebut hipertensi, tetapi sudah cenderung pasti mengarah ke sana.

    Jangan remehkan juga kondisi pra-hipertensi ini. Jika tidak diantisipasi, maka akan menimbulkan penyakit yang jauh lebih berat di kemudian hari, tanpa kamu sadari.

    Seseorang bisa dikatakan menderita hipertensi JIKA hasil pengukuran tensi darahnya menunjukkan angka di atas 140/80 mmHG secara konsisten, sepanjang waktu, dalam keadaan santai.

    World Health Organization mengatakan bahwa jumlah dan persentase orang yang terjangkit hipertensi selalu meningkat dari tahun ke tahun. Dan jaman sekarang ini, semua kalangan, semua golongan berisiko terkena tekanan darah tinggi ini.

    Bahkan data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa 25,8% penduduk Indonesia mengidap hipertensi. Itu sudah lebih dari seperempat penduduk Indonesia. Sangat banyak tentunya, dan angka itu semakin meningkat setiap tahunnya.

    Bahayanya kondisi ini adalah banyak sekali penderitanya yang tidak menyadarinya, karena memang gejala yang ditimbulkan sering kali tidak ada. Sampai tiba-tiba terjadi serangan mendadak. Oleh sebab ini, hipertensi sering diberi julukan “Silent Killer”, alias pembunuh senyap.

    Banyak sekali bahayanya kondisi hipertensi ini, seperti kemungkinan yang besar untuk serangan jantung, stroke, lumpuh sebelah, bahkan kematian mendadak.

    Tekanan darah tinggi juga turut mempengaruhi penglihatan, kerusakan organ-organ dalam seperti ginjal dan sel syaraf.

    Hipertensi banyak menyerang orang-orang yang memiliki kebiasaan merokok, minum minuman keras, jarang dan/atau tidak pernah olahraga, sering makan makanan yang tinggi karbohidrat dan gula, dan berusia di atas 55 tahun.

    TIDAK ADA OBAT yang bisa menyembuhkan hipertensi. Karena obat yang ada sekarang hanya untuk menurunkan tekanan darah saja, bukan menyembuhkan secara total.

    Dalam artian, kamu harus rutin mengonsumsinya sepanjang sisa hidupmu, sampai kamu bisa mengubah gaya hidup menjadi kebalikannya dari yang sedang kamu jalani sekarang ini.

    Hipotensi (Tekanan Darah Rendah)

    Sebaliknya, jika hasil tensi darah menunjukkan angka yang di bawah 90/60 mmHG secara konsisten, maka kamu bisa dikatakan menderita hipotensi. Kondisi tekanan darah rendah bisa dikatakan tidak sebahaya tekanan darah tinggi, tapi juga kamu tidak boleh menyepelekannya.

    Hipotensi menyebabkan darah tidak dapat mengantarkan cukup oksigen ke seluruh organ tubuh manusia. Akibatnya dalam jangka panjang tentu saja akan merusak organ tubuh penderitanya.

    Pada umumnya gejala tekanan darah rendah adalah sebagai berikut:

    • Sering lelah
    • Mudah pusing
    • Pandangan berkunang-kunang, terutama bila habis jongkok dalam waktu lama, kemudian tiba-tiba berdiri
    • Pingsan
    • Nafas jadi pendek
    • Sering kehausan
    • Kurang bisa fokus

    Meski tergolong tidak seberat hipertensi, seperti yang saya utarakan sebelumnya di atas, jangan sepelekan hipotensi. Tekanan darah yang rendah bisa merusak jantung dan otak. Pandangan yang buram dan terjadi secara tiba-tiba juga bisa mengakibatkan penderitanya terjatuh tanpa tahu apa-apa.

    Jika pada saat terjatuh itu kepalanya membentur sesuatu yang keras, tentu hal ini bisa mengakibatkan hal yang serius juga. Jadi tetap waspada dengan kondisi tekanan darah yang terlalu rendah.

    Apa saja hal-hal yang bisa memicu terjadinya hipotensi? Berikut sudah saya rangkum:

    • Dehidrasi, alias kekurangan cairan
    • Kondisi sedang hamil
    • Anemia alias kekurangan darah
    • Sedang terjadi infeksi
    • Alergi
    • Gangguan jantung
    • Terluka sehingga kehilangan banyak darah
    • Rutin mengonsumsi minuman beralkohol
    • Hormon yang tidak seimbang
    • Pemakaian obat yang tergolong anti depresan dan alfa dan beta blocker

    Tekanan Darah Pada Ibu Hamil

    Hampir 3% wanita yang sedang hamil mengalami hipertensi. Ini adalah kondisi hipertensi yang sementara, sesudah ibu itu melahirkan maka biasanya akan normal kembali.

    Tapi tetap harus kita waspadai, karena tekanan darah yang tinggi pada saat hamil bisa memicu sesuatu yang gawat bagi si janin.

    Apa saja akibatnya hipertensi pada ibu hamil?

    Hipertensi pada ibu hamil bisa mengakibatkan bayi lahir prematur, aliran darah ke janin akan terhambat, oleh sebab itu naiknya tekanan darah selama hamil harus bisa dinormalkan.

    Berikut merupakan komplikasi hipertensi pada ibu hamil:

    • Pre-eklampsia

    Kondisi pre-Eklampsia adalah gejala hipertensi yang terjadi pada ibu hamil. Plasenta yang berfungsi mengantarkan gizi ke si janin jadi tidak bisa berkembang secara normal.

    Apa penyebabnya? Sampai sekarang belum ada yang tahu secara pasti.

    Untuk perkembangan janin yang optimal, tentunya kondisi plasenta haruslah baik, aliran gizi dari si Ibu tidak boleh terhambat, apalagi sampai terputus.

    Oleh karena itu, kondisi hipertensi pada ibu hamil WAJIB segera diatasi.

    • Eklampsia

    Eklampsia adalah kejang-kejang yang sering terjadi pada wanita hamil. Apabila kondisi pre-eklampsia dibiarkan tanpa solusi, maka kemungkinan besar akan mengarah pada kondisi langka eklampsia ini.

    Kedua jenis kelainan ini menyerang plasenta yang fungsi utamanya untuk mengalirkan zat nutrisi dari si Ibu ke si Janin. Naiknya tekanan darah secara berlebih akan mengganggu volume darah sehingga janin tidak menerima nutrisi yang dibutuhkan dengan normal.

    Akibat paling umum dari eklampsia adalah kelahiran prematur, atau kelahiran sebelum 9 bulan usia janin. Biasanya selalu disertai dengan kekurangan berat badan saat lahir, karena memang usia kelahirannya belum mencukupi.

    Ada juga yang bahkan sampai menyebabkan bayi lahir mati (StillBirth).

    • Tekanan darah rendah

    Selain tekanan darah tinggi, wanita haml juga bisa diserang tekanan darah rendah.

    Turunnya tekanan darah bisa terjadi karena tubuh si Ibu harus menjaga pasokan gizi dan oksigen lewat darah ke si janin.

    Kehamilan anak kembar, kekurangan asam Folat, kekurangan Vitamin B12, anemia (penyakit kurang darah), dehidrasi, dan penyakit jantung tertentu juga bisa menyebabkan tekanan darah rendah selama hamil.

    Cara Menjaga Stabilnya Tekanan Darah Selama Kehamilan

    Selama masa kehamilannya, wanita harus bisa menjaga tingkat tekanan darahnya, jangan terlalu rendah, juga jangan terlalu tinggi. berikut tips dan cara menjaga kestabilan tekanan darah selama hamil:

    • Ikuti jadwal kunjungan ke dokter spesialis kandungan selama hamil
    • Jika dokter menemukan kelainan tekanan darah, dokter akan meresepkan obat yang sesuai dan dosisnya
    • Kehamilan tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak melakukan aktivitas fisik seperti olahraga ringan
    • Batasi asupan karbohidrat dan gula untuk menjaga tingkat kestabilan gula darah dan tensi darah
    • Jangan merokok
    • Jangan minum minuman beralkohol
    • Jangan sembarang minum obat dan/atau suplemen

    Apa Yang Harus Kamu Lakukan Untuk Mendapatkan Tekanan Darah Normal?

    Jika tensi darahmu tinggi, maka berikut hal-hal yang wajib kamu lakukan:

    • Kurangi dan/atau hilangkan gula dan karbohidrat dari menu

    Tidak adanya jenis karbohidrat esensial berarti tubuh memang tidak membutuhkan asupan karbohidrat sama sekali. Pun tidak ada yang mengatakan bahwa manusia wajib mengonsumsi minimal sekian gram karbohidrat/gula setiap harinya.

    Ganti segera sumber energi tubuh kamu dengan protein dan/atau lemak sehat. Kebiasaan mengonsumsi makanan karbohidrat membuat tubuh menderita berbagai penyakit, salah satunya adalah hipertensi ini.

    • Berpuasa

    Salah satu metode pengobatan adalah dengan rutin berpuasa. Berpuasa artinya tidak memberi tubuh asupan makanan dan minuman yang mengandung kalori.

    Puasa memberi kesempatan kepada tubuh manusia untuk mengobatinya sendiri sesuai dengan kondisi, karena yang tahu kondisi di dalam badan kita hanya badan kita sendiri, dalam hal ini yang saya maksud adalah hati kita (liver).

    Sering berpuasa juga membuat pikiran ringan, mudah terhindar dari stress, yang membuat tekanan darah juga jadi turun. Apalagi jika kamu tambah dengan meditasi.

    • Rutin berolahraga

    Kegiatan fisik seperti olahraga sudah terbukti dan teruji sejak jaman dahulu sebagai kegiatan yang positif sekali bagi kesehatan kita semua. Dengan rutin melakukan olahraga, maka tensi darah juga akan menjadi normal.

    Berolahraga juga membuat pikiran rileks, jauh dari stress, mengurangi lemak di badan kita, mengecilkan lingkar pinggang. Semua itu berujung kepada normalnya tekanan darah kamu.

    Jika belum terbiasa setiap hari, awali dengan satu kali dalam seminggu. Nanti pelan-pelan dinaikkan jadi 2 kali seminggu, lalu 3 kali seminggu, sampai kamu bisa setiap hari.

    Olahraga yang dilakukan tidak perlu alat-alat yang berat atau macam-macam. Cukup dengan lari-lari kecil atau berjalan non-stop selama 1 jam juga sudah termasuk olahraga, terutama bagi yang tidak pernah olahraga.

    Yang juga menjadi kebiasaan buruk adalah sesudah berolahraga, orang langsung makan dan minum, malah yang manis-manis. Bisa kamu lihat, di sekitaran gedung olahraga tempat orang jalan pagi, selalu banyak penjual jajanan, baik itu makanan maupun minuman.

    Dan mereka itu selalu ramai. Apa artinya? Artinya adalah orang sesudah olahraga pada umumnya langsung memasukkan karbohidrat dan gula lagi. Biasanya malah berlebihan karena sudah menganggap badan sudah mengeluarkan banyak energi untuk berolahraga.

    Kalau kamu hitung kalorinya, malahan kalori yang masuk itu jauh lebih banyak daripada kalori yang terbakar pada saat olahraga. Ini yang tidak bagus.

    • Manajemen stress

    Stress wajib dihindari. Emosi harus bisa dijaga dan dikendalikan. Semua hal di atas bisa membantu kamu untuk menjaga tingkat stress dan kadar emosi.

    Emosi yang labil, cepat naik dan turun, membuat tekanan darah dan kadar gula darah juga turut naik.

    Ikutilah kelas meditasi, belajar teknik pernafasan dan relaksasi bisa membantumu mencapai tujuan yang satu ini.

    Lalu bagaimana dengan konsumsi garam? Katanya orang tekanan darah tinggi harus mengurangi konsumsi garam? Abaikan saja saran tentang garam ini. Karena bukan garamlah penyebab naiknya tensi darah kamu, melainkan gula dan karbohidrat.

    Praktekkan saja dalam seminggu tanpa gula dan karbohidrat, kamu akan dapatkan tekanan darahmu turun ke angka yang tidak akan bisa kamu dapatkan sebelumnya walau dengan obat penurun tekanan darah apapun.

    Malah orang yang terkena hipertensi yang rutin minum obat penurun tekanan darah, plus mengurangi asupan garam, tekanan darahnya tidak pernah bisa normal jadi 120/80 mmHG.

    JANGAN PERCAYA dengan kata-kata saya, praktek dan buktikanlah!

    Jika kamu mendapati bahwa hasil pengukuran tensimu rendah, maka berikut saran yang bisa kamu lakukan:

    • Banyak olahraga

    Olahraga selain menurunkan tekanan darah bagi yang hipertensi, ternyata juga bisa menaikkan tekanan darah bagi yang hipotensi.

    Jadi sesungguhnya olahraga itu MENORMALKAN tekanan darah manusia.

    • Berpuasa

    Puasa juga memberikan efek menormalkan tekanan darah. Artinya puasa menurunkan tekanan darah untuk orang yang hipertensi, DAN menaikkan tensi bagi orang yang hipotensi.

    • Minum air secukupnya

    Kemungkinan kamu menderita hipotensi karena kekurangan air. Maka solusinya mudah, yaitu dengan menambah asupan air putih, tanpa tambahan apapun.

    Selain mencegah dehidrasi, air juga memperlancar kegiatan organ-organ dalam manusia. Semua bagian tubuh manusia butuh air untuk bisa bekerja optimal.

    • Kurangi gula dan karbohidrat

    Ini memang agak aneh, tapi saya pun dulu hipotensi. Setelah saya rutin menghapus gula dan karbohidrat dari menu saya, ditambah dengan puasa, tekanan darah saya malah naik jadi normal.

    Serangan-serangan hilangnya pandangan dan mata berkunang-kunang pun sudah tidak pernah ada lagi.

    Ada perbaikan dan perkembangan dengan kita mengurangi asupan gula dan karbohidrat bagi kesehatan badan kita.

    Targetkan Tensi Darah Yang Normal Segera!

    Cobalah cek tekanan darah kamu hari ini juga untuk mengetahui posisi sekarang, apakah kamu masuk hipertensi, hipotensi, atau tensi darah yang normal. Dari sini baru kamu bisa membuat rencana ke depannya.

    Tanpa mengetahui tekanan darah, kita tidak bisa memastikan kondisi kesehatan kita.

    Setelah kamu mengetahui posisi awalmu, lakukanlah tips yang saya tuliskan di atas. Seminggu kemudian cek kembali tekanan darahmu. Apakah ada perbaikan menuju ke range tensi normal antara 90/60 mmHG dan 120/80 mmHG?

    Jika hasil pengukuran tekanan darah melebihi 140/100 mmHG, segeralah konsultasi ke dokter. Dokter yang akan meresepkan obat penurun tekanan darah, yang berfungsi sebagai solusi jangka pendek kamu.

    Tapi yang jauh lebih penting dari obat itu adalah perubahan gaya hidupmu. Tanpa perubahan gaya hidup, niscaya kamu harus mengonsumsi obat penurun tekanan darah itu seumur hidupmu.

    Kamu bisa pergi mengecek tensi darah di apotek-apotek atau puskesmas terdekat. Tapi akan lebih baik lagi jika kamu memiliki alat pengukur tekanan darah sendiri di rumah. Dengan demikian, kamu bisa mengecek setiap hari, tepat sesudah bangun tidur di pagi hari.

    Tanyalah kepada dokter atau petugas apotek untuk mengetahui jenis dan merek alat tensi yang cocok untukmu. Setiap merek dan alat ada kelebihan dan kekurangannya. Carilah yang sesuai dengan budget dan kebutuhanmu.

    Sangat disarankan untuk selalu mencatat hasil pengukuran tensi darah setiap hari, untuk kemudian ditunjukkan kepada dokter pada saat kamu melakukan konsultasi. Akan sangat membantu dokter dalam melakukan diagnosis.

    Demikian pula dengan kondisi tekanan darah rendah.

    Jika kamu mendapati tensi darahmu di bawah angka 90/60 mmHG, maka segeralah pergi ke dokter untuk konsultasi. Dokter mungkin akan menyarankan untuk banyak-banyak mengonsumsi daging kambing, karena biasanya mengonsumsi daging kambing dipercaya akan meningkatkan tekanan darah.

    Tapi sepanjang pengalaman saya, tidak ada pengaruh apa-apa. Dan juga tidak semua orang suka makan daging kambing.

    Jadi saran saya seperti di atas itu. Karena saya sendiri sudah mengalaminya, dan sudah tidak lagi berada di posisi hipotensi.

    Mari kita normalkan tekanan darah kita masing-masing!

    AloSehat.com TIDAK memberikan saran dan diagnosa medis apapun. Saran yang dibagikan di artikel ini merupakan pengalaman pribadi penulis dan keluarga penulis.

    • Facebook
    • Twitter
    • Google+
    • Linkedin
    • Pinterest

    Leave a Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

    This div height required for enabling the sticky sidebar