Ad Clicks :Ad Views : Ad Clicks :Ad Views : Ad Clicks :Ad Views : Ad Clicks :Ad Views : Ad Clicks :Ad Views : Ad Clicks :Ad Views : Ad Clicks :Ad Views :
Alo Sehat

Hidup Sehat Bebas Obat Selamanya!

    Susu dan Produk Susu

    /
    /
    /
    8 Views

    Susu dan Produk Susu

    susu dan produk susu
    Segelas Susu Full Cream

    Banyak ahli gizi yang mengatakan bahwa susu dan semua produk turunan susu merupakan sumber kalsium dan protein yang sangat bagus yang dibutuhkan untuk membuat tulang dan gigi kita jadi kuat. Tapi, secara logika kita, susu sapi secara alaminya dirancang untuk menumbuhkembangkan anak sapi dan sapi, bukan untuk pertumbuhan manusia. Apakah kita sudah terlalu pintar dengan membajak minuman khusus untuk anak sapi menjadi minuman manusia? Dan apa efeknya minum susu sapi pada badan kita?

    Pengetahuan Dasar Tentang Susu Sapi

    Produk turunan dari susu sapi, seperti keju, krim susu, yoghurt, dan susu itu sendiri, adalah makanan yang serba guna bagi banyak sekali orang di seluruh dunia, terutama pada saat sarapan. Tapi kenyataannya, susu tidak pernah menjadi bagian dari makanan manusia, sampai kira-kira 10.000 tahun yang lalu, pada saat dimulainya revolusi agrikultur atau masa bercocok tanam, saat hewan ternak pertama kalinya berhasil dijinakkan.

    Kata para ahli, susu dan semua produk susu sangat penting dalam bagian menu makan kita, tapi nyatanya selama 2 juta tahun manusia dan pendahulunya bisa hidup dan melalui masa itu TANPA sedikit pun mengonsumsi susu. Kita juga diberi tahu bahwa kandungan kalsium yang tinggi dalam susu sangat penting bagi pertumbuhan tulang dan gigi. Juga merupakan sumber protein yang lebih murah dibandingkan dengan daging.

    Lantas, bagaimana mungkin makanan yang tak pernah dikonsumsi para leluhur kita bisa dianggap sebagai bagian yang penting dari menu kita saat ini? Apakah tubuh kita dirancang untuk menggunakan susu dari spesies lain untuk pertumbuhan dan perkembangan spesies kita sendiri?

    Ada begitu banyak orang yang mengalami kesulitan dalam memproses susu, dan kebanyakan dari mereka malah tidak menyadarinya sama sekali. Karena mayoritas dari kita telah diajarkan untuk minum susu sejak kecil setiap harinya, maka kita tidak bisa menghubungkan gejala penyakit kita dengan konsumsi susu. Beberapa masalah kesehatan yang diakibatkan konsumsi susu antara lain gangguan pencernaan, diare, asma, sakit otot dan sendi, sakit kepala, eksim, dan iritasi saluran kencing.

    Saat kita membicarakan tentang susu, maka pikiran kita hampir 100% akan ke arah susu sapi. Susu sapi merupakan sebuah makanan yang sangat rumit dan memang dikhususkan untuk menumbuhkembangkan seekor anak sapi, tentu saja. Oleh karena itu, kandungan nutrisi di dalamnya juga sangat menarik bagi manusia, ada protein, ada lemak, ada vitamin, dan juga mineral. Juga ada antibodi, hormon pertumbuhan, dan segala substansi yang diperlukan bagi perkembangan si anak sapi.

    Kualitas dan jumlah kandungan nutrisi dalam susu bervariasi, semua tergantung kepada sang induknya diberi makan apa, tipe sapi sang induknya, dan bagaimana ia dibesarkan. Mari kita lihat bagian per bagian dari kandungan susu sapi untuk mengetahui apa sih sebenarnya yang kita dapatkan saat kita minum susu.

    GULA SUSU: LAKTOSA

    Apa itu Laktosa?

    Laktosa adalah sejenis gula yang umum terdapat pada semua susu dari hewan mamalia, termasuk juga ASI. Laktosa termasuk ke dalam gula kategori indeks glikemik yang rendah. setiap molekul laktosa terdiri dari 2 molekul gula, yaitu satu molekul glukosa yang terhubung pada satu molekul galaktosa.

    Kita bisa menyerap glukosa dan galaktosa dengan mudah, tapi jika mereka terhubung maka kita tidak bisa menyerapnya. Jadi, pada saat kita masih bayi, usus kita bisa mengeluarkan enzim khusus untuk mencerna laktosa, yang dinamakan laktase, yang akan memecahkan ikatan antara glukosa dan galaktosa ini. Setelah terpisah, kita jadi bisa menyerapnya.

    Apa itu Laktosa Intoleran atau Intoleransi Laktosa?

    Laktosa intoleran bukanlah masalah kesehatan, laktosa intoleran hanya berarti bahwa kamu sudah tumbuh menjadi dewasa.

    Kira-kira pada saat berusia antara 2 sampai 5 tahun, semua manusia akan secara perlahan-lahan kehilangan kemampuan untuk menghasilkan enzim laktase. Jadi beda orang, beda pula usia mulai laktosa intoleransinya.

    Sebelum masa bercocok tanam dimulai, sekitar 10.000 tahun yang lalu, semua manusia akan kehilangan kemampuan menghasilkan laktase pada masa kanak-kanak dimulai, setelah menyapih. Jadi bisa dikatakan bahwa leluhur semua manusia sudah pasti laktosa intoleran.

    Tapi, saat susu mulai dikonsumsi setelah sapi dijinakkan, maka ada terjadi pergeseran gen, yang membuat beberapa orang tetap bisa menghasilkan enzim laktase bahkan sampai mereka dewasa. Kita sebut mereka laktase persisten. Mereka berevolusi untuk tetap bisa mencerna susu sapi sampai dewasa.

    Tapi kebanyakan manusia akan kehilangan kemampuan tersebut. Pada umumnya setelah anak-anak masuk sekolah dasar, mereka secara umum sudah tidak bisa lagi menghasilkan laktase.

    Apa akibatnya?

    Ikatan antara glukosa dan galaktosa pada laktosa tidak akan bisa dilepaskan. Maka laktosa akan terus utuh, sampai di usus besar, di mana di situ ada banyak sekali bakteri yang dengan sangat senang hati menyambut makanan favorit mereka.

    Masalahnya, bakteri itu TIDAK melepaskan ikatan antara glukosa dan galaktosa, melainkan mereka memfermentasikannya, menghasilkan asam laktat dan gas sebagai produk sampingannya. Yup! Tepat sekali seperti tebakanmu. Gas ini tidak hanya akan membuatmu terus buang angin, tapi juga membuat perut kembung, mual, sakit, dan bahkan diare pula.

    Seberapa umumkah laktosa intoleran?

    Kira-kira 2/3 sampai ¾ seluruh populasi dunia adalah laktosa intoleran. Bangsa Asia mencapai tingkat 100%, dan bangsa Eropa serta Amerika bervariasi.

    Ada yang 100% laktosa intoleran, ada pula yang laktosa toleran, tapi tidak 100%. Jadi kalau kamu ingin tahu seberapa tingkatan laktosa intoleranmu, perlu dilakukan tes dahulu di laboratorium.

    Bagaimana saya bisa tahu kalau saya laktosa intoleran?

    Jika kamu mengonsumsi susu sapi, lalu kemudian kamu merasa tidak enak di bagian perut, maka kamu bisa melakukan tes. Laktosa yang diteruskan sampai ke usus besar akan bertemu dengan bakteri, yang akan segera memfermentasikannya dan menghasilkan gas, salah satunya hidrogen.

    Gas hidrogen ini akan masuk ke dalam aliran darah, sampai ke paru-paru, dan kemudian keluar lewat nafasmu. Jika dalam nafasmu terkandung hidrogen setelah kamu minum susu sapi, maka kemungkinan besar kamu laktosa intoleran. Tapi jika setelah minum susu, kamu mengalami masalah, tapi hasil tes tidak menunjukkan bahwa kamu laktosa intoleran, itu artinya kamu bermasalah terhadap kandungan lainnya dari susu sapi.

    Jika saya laktosa intoleran, apakah saya tidak boleh konsumsi semua produk susu?

    Sepanjang pengetahuan saya, laktosa intoleran tidak membahayakan nyawa manusia. Tapi kamu akan mengalami tidak nyaman setiap kali usai mengonsumsi susu dan produk susu. Maka pilihannya adalah produk susu yang telah dikurangi atau dihilangkan kandungan laktosanya. Contohnya adalah krim penuh (bukan yang setengah setangah), keju yang keras (bakteri memakan seluruh laktosanya), mentega, dan ghee.

    Selalu baca dan perhatikan tabel Nutrition Facts dari makanan yang akan kamu makan. Perhatikan di bagian karbohidrat. Karena semua kandungan karbohidrat dalam produk susu adalah laktosa, maka semakin besar kandungan karbohidratnya, semakin besar pula kandungan laktosanya. Jika tertulis nol gram, itu artinya produk susu tersebut tidak ada laktosa.

    Atau kamu juga bisa minum produk suplemen yang mengandung enzim laktase untuk membantu sistem pencernaanmu dalam mencerna laktosa. Tapi di Indonesia sini sepertinya tidak ada. Minum susu bersamaan dengan makan juga turut mengurangi efek negatif laktosa.

    PROTEIN SUSU: Whey dan Kasein

    Jika kamu membiarkan susu mengental, maka akan terbentuk 2 bagian, yaitu bagian yang disebut dadih (seperti lumpur yang mengendap) dan whey (bagian yang berair yang mengambang). Inilah 2 bagian utama dari protein susu, yang mengendap disebut protein kasein, dan yang mengambang disebut protein whey.

    Protein Kasein

    Kasein pada susu merupakan bagian yang kaya akan protein dan mengandung bagian terbesar dari kalsium pada susu. Kasein sangat lengket dan menggumpal, karena itu jaman dahulu kasein sering digunakan sebagai lem.

    Dan uniknya, kasein memang dirancang sedemikian rupa agar menggumpal di dalam perut. MENGAPA seekor anak sapi ingin ada gumpalan “lumpur” di dalam perutnya?

    Alasannya sangat luar biasa, jika kita pikirkan. Jika protein tidak ditempelkan sampai menggumpal seperti itu, maka protein akan sangat cepat dicerna dan terserap seluruhnya. Dengan dijadikan gumpalan yang lengket, enzim pencernaan memerlukan waktu yang lebih panjang untuk sampai ke bagian pusat gumpalan tersebut, menjadikan kasein sebagai sumber protein yang dilepaskan sedikit demi sedikit, ketimbang langsung banyak sekaligus.

    Kasein jauh lebih sulit dicerna dibandingkan dengan whey, dan sebagai informasi tambahan, susu sapi mengandung BANYAK sekali kasein ini. Kandungan kasein dalam susu sapi 4 kali lipat lebih banyak dibandingkan kandungan kasein dalam ASI, karena – ehm ehm – susu sapi dirancang alam untuk membesarkan anak sapi, bukan anak manusia. Dan sapi jauh lebih besar daripada manusia, serta harus tumbuh jauh lebih cepat pula. Yang artinya anak sapi membutuhkan jauh lebih banyak protein ketimbang bayi manusia.

    Jadi, bagaimana perut anak sapi bisa menangani semua gumpalan lumpur itu?

    Sistem pencernaan manusia dan sapi tentu saja berbeda JAUH sekali, kita semua tahu akan hal itu. Tidak hanya anak sapi memiliki EMPAT lambung, tapi juga memiliki enzim khusus untuk mencerna kasein itu, namanya adalah rennet. Dan seperti tebakanmu, bayi manusia tidak punya enzim rennet itu. Rennet bisa memecahkan gumpalan-gumpalan “lumpur” kasein menjadi partikel yang bisa dicerna anak sapi.

    Apakah kasein dari susu sapi dan kasein dari ASI berbeda?

    Ada banyak perbedaannya, tapi yang paling signifikan adalah tipe kaseinnya.

    Tipe kasein dalam ASI adalah beta kasein, sedangkan dalam susu sapi adalah alpha S1 kasein. Kasein dalam susu sapi inilah penyebab utama alergi terhadap susu sapi.

    Semua susu dari hewan mamalia, termasuk manusia dan sapi, mengandung tipe kasein yang disebut kasein kappa. Kasein kappa juga ada 2 jenis, yaitu yang untuk makhluk memamah biak (seperti sapi yang memiliki lebih dari 1 lambung), dan yang untuk makhluk yang TIDAK memamah biak (seperti manusia yang hanya memiliki 1 lambung saja).

    Perbedaan tipe protein dalam susu sapi dan ASI, plus ketiadaan enzim rennet dalam manusia menjadi penyebab utama gangguan pencernaan pada orang yang bermasalah setelah mengonsumsi susu dan produk susu lainnya.

    Protein Whey

    Berbeda dengan kasein, protein whey jauh lebih lembut, halus, dan lebih mudah dicerna manusia. Di dalam protein whey ada laktoferin, albumin, dan laktalbumin. Juga sebagian besar laktosa susu dan antibodi IgA yang diperlukan untuk menurunkan sistem kekebalan dari induk ke anak.

    Protein whey pada ASI juga berbeda dengan protein whey pada susu sapi. Whey pada ASI didominasi oleh laktoferin, albumin, dan laktalbumin, sedangkan whey pada susu sapi didominasi oleh laktoglobulin.

    Alergi Pada Protein Susu

    Banyak orang yang mengalami masalah terhadap susu sapi sebenarnya bukan menderita laktosa intoleran, melainkan alergi pada protein susu. Gejala-gejala alergi protein susu sebagai berikut:

    • Gatal-gatal
    • Pembengkakan
    • Ruam pada kulit
    • Gatal/panas pada mulut atau kerongkongan

    Alergi ini perlu diobati, biasanya dengan pemberian epinephrine. Nah, orang-orang yang memang alergi pada susu sapi barulah harus secara total menghindari konsumsi susu dan semua produk susu turunannya.

    Seberapa umum alergi protein susu?

    Alergi pada susu menjangkiti sekitar 2-5% populasi anak di bawah usia 3 tahun. Gejala di atas biasanya akan muncul kurang dari 2 bulan sejak pemberian pertama susu sapi. Gejala paling umum yang menyerang anak bayi adalah sembelit.

    Yang menarik di sini, jika si ibu yang memberikan ASI juga minum susu sapi, maka sang bayi pun bisa mengalami alergi pada susu sapi, walau pun ia tidak minum susu sapi secara langsung. Kasus ini terjadi pada 0.5% populasi anak. Jika ini terjadi pada anak Anda, maka sang Ibu sebaiknya menghentikan asupan susu dan produk susu.

    Protein susu apakah yang menyebabkan alergi?

    Sebenarnya semua jenis protein susu berpotensi mengakibatkan alergi. Tapi karena sekitar 80% susu sapi adalah kasein, maka alergi terhadap kasein adalah alergi yang paling umum menimpa manusia.

    Jika saya alergi susu sapi, apakah saya masih bisa minum susu kambing atau domba?

    Amat sangat disayangkan, jika kamu alergi susu sapi, maka bisa dipastikan 100% kamu juga alergi terhadap susu domba dan susu kambing. Untungnya sekarang sudah ada susu formula khusus untuk bayi yang mengalami alergi pada susu sapi.

    Ada pula kemungkinan sebesar 10% jika kamu menderita alergi susu sapi, kamu juga akan alergi pada protein kedelai.

    Sensitif pada susu

    Selain alergi, ada pula gejala sensitivitas pada susu, yang lebih umum terjadi. Sensitivitas pada susu ini penyebab bayi mengalami kesulitan dalam menelan, infeksi telinga yang terus berulang, dan hidung tersumbat.

    Satu-satunya cara untuk mengetahui apakah sang bayi mengalami sensitivitas pada susu adalah dengan menghilangkan segala jenis susu selama 2 minggu untuk melihat apakah ada perbaikan kesehatan.

    Dan untungnya jika kamu hanya mengalami masalah sensitivitas pada susu, kamu tidak perlu menghindari segala jenis susu. Tidak sepeti orang yang alergi susu, maka ia harus menghindarinya dalam segala bentuk dan rupa. Cobalah pilih produk susu yang memiliki kadar protein rendah.

    LEMAK SUSU

    Lemak Jenuh pada Susu

    Sekitar 2/3 lemak di dalam susu merupakan lemak jenuh, sisanya adalah gabungan antara mono-unsaturated fat (lemak tak jenuh tunggal) dan poly-unsaturated fat (lemak tak jenuh banyak).

    Lemak jenuh pada susu disebut butterfat, dan merupakan jenis lemak yang paling rumit di dunia. Tergantung pada makanan sapinya, jumlah dan jenis lemak jenuh dalam susu sapi didominasi oleh oleic acid, palmitic acid, dan myristic acid.

    Asam Lemak Omega 3

    Kadar asam lemak omega 3  dalam susu sapi bervariasi tergantung makanan sapi itu sendiri. Sapi yang diberi makan rumput memiliki kandungan omega 3 yang lebih tinggi.

    Sebagai tambahan, kandungan omega 3 dalam susu sapi selalu dalam bentul ALA, dan tidak pernah dalam bentuk EPA atau DHA. DHA dibutuhkan untuk perkembangan otak dan mata pada bayi manusia. Anak sapi tidak membutuhkan DHA.

    ASI mengandung DHA, dengan kadar yang tergantung makanan yang dimakan si Ibunya. Jika ibunya banyak makan makanan yang mengandung DHA, maka dalam ASI nya pun ada banyak kandungan DHA.

    Trans Fat atau Lemak Trans

    Jika mendengar kata lemak trans, langsung yang terpikir oleh kita adalah lemak yang jahat seperti margarin. Tapi lemak trans yang buruk adalah lemak trans yang dibuat di pabrik dengan proses hidrogenasi minyak kelapa sawit. Dan, banyak yang tidak tahu, bahwa sebenarnya di dalam hewan memamah biak seperti sapi pun juga ada lemak trans, tapi yang alami.

    Bakteri dalam saluran pencernaan hewan memamah biak akan mengubah asam lemak tak jenuh menjadi asam lemak trans, yang kemudian diserap oleh si sapi itu sendiri, yang dengan sendirinya akan memasuki daging dan susu sapinya.

    Ada 2 jenis lemak trans yang terjadi secara alami dalam badan sapi, yaitu Conjugated Linoleic Acid (CLA) dan  Vaccenic Acid (VA).

    Apakah lemak trans alami ini aman bagi tubuh kita?

    Justru karena pada hasil penelitian di laboratorium yang menunjukkan bahwa CLA ini sangat bermanfaat terutama dalam bidang memerangi kanker lah, maka publik jadi tertarik pada lemak trans. Tapi tidak ada penelitian yang menunjukkan bukti seperti itu pada manusia, dikarenakan persepsi publik jika menyebut lemak trans pasti ke arah lemak trans hasil buatan pabrik, yang justru berbahaya bagi jantung kita.

    Tapi tak perlu khawatir, karena jumlah lemak trans yang kita dapatkan dari minum susu sedikit sekali.

    Kalsium dan kesehatan tulang dan gigi

    Kandungan kalsium dalam 1 Liter susu adalah 1 gram, kira-kira 4 kali lipat dari kandungan kalsium pada ASI. Tidak ada yang khusus dari kalsium susu ini, sama saja seperti jenis kalsium yang bisa kita dapatkan dari daging.

    Sejak kecil, kita selalu diajarkan bahwa minum susu itu baik bagi pertumbuhan dan kekuatan tulang dan gigi yang kuat, tapi justru jumlah penderita tulang keropos alas Osteoporosis malah meningkat drastis. Tampak jelas bahwa tulang keropos ini bukan melulu masalah kekurangan asupan kalsium, tapi lebih condong ke masalah yang lain, seperti:

    • Vitamin D, yang diperlukan agar kalsium bisa digunakan dalam pembentukan tulang yang kuat,
    • Anti nutrisi dari semua tumbuh-tumbuhan, seperti asam fitat dan oksalat yang mencegah tubuh dalam menyerap kalsium, dan
    • Karbohidrat (dia lagi, dia lagi), yang membuat kadar gula darah tinggi, sehingga menyebabkan kalsium dari tulang diambil untuk memperbaiki inflamasi.

    Lalu, apakah minum susu memperkuat tulang kita?

    Hasil penelitian selama 18 tahun menunjukkan bahwa justru Vitamin D, dan bukan kalsium, yang berpotensi besar mengurangi risiko tulang keropos. Dan susu itu sendiri bukan sumber Vitamin D yang potensial. Susu sekarang malah harus difortifikasi dengan Vitamin D.

    Jadi, utamakan Vitamin D untuk mencegah terjadinya tulang keropos.

    HORMON PADA SUSU SAPI

    Bagaimana cara kerja susu sapi dalam membesarkan si anak sapi? Mengapa kamu perlu tahu hal ini?

    Tugas nomor SATU dan yang paling UTAMA dari susu semua makhluk hidup mamalia adalah….. JRENG JRENG JRENG…. membuat si anak mamalia itu TUMBUH DAN BERKEMBANG, tentu saja.

    Dan untuk dapat tumbuh kembang dengan baik, kamu memerlukan protein, lemak, dan karbohidrat untuk membentuk bagian-bagian tubuh. Susu memiliki seluruh kandungan tersebut. Tapi, hanya dengan memberikan seluruh kandungan nutrisi tersebut ke anak hewan dan manusia saja tidak akan membuat si anak tersebut bisa bertumbuh, jika tidak ada hormon yang mengaturnya.

    Bagaimana caranya tubuh bisa tahu untuk apa seluruh nutrisi yang diberikan itu digunakan?

    Apakah untuk dibakar sebagai energi? Atau untuk disimpan?

    Apakah untuk membentuk sel yang baru? Kalau IYA, maka untuk sel apa? Tulang? Hati? Otak? Mata? Atau apa?

    Nah, di sinilah peran hormon.

    Jadi, alam tidak hanya menyediakan susunya saja, tapi juga arahan tentang bagaimana caranya nutrisi itu dipakai, kapan ia harus tumbuh, dan bagian mana yang harus tumbuh. Semua arahan dari alam ini dalam bentuk hormon, biasa disebut growth factor.

    Saat kita minum susu, maka semua kasein dan whey ini akan dipecah menjadi growth factor, yang akan mengirimkan sinyal ke seluruh tubuh kita. Itulah sebabnya tidak ada susu yang diberi label “Bebas Hormon”.

    Apakah hormon dalam susu sapi mempengaruhi manusia?

    Protein whey dalam susu sapi akan menaikkan kadar insulin kita. Sebenarnya, susu yang memiliki indeks glikemik rendah yang artinya tidak akan membuat kadar insulin melonjak, justru membuat insulin kita naik lebih tinggi daripada yang bisa dilakukan gula murni.

    Mungkin kamu, dan juga mayoritas orang, akan berpikir bahwa insulin itu gunanya untuk menjaga kadar gula darah tetap normal. Tapi sebenarnya tugas utama insulin bukan itu. Insulin adalah induk dari semua growth hormone, alias GH. Dalam setiap pertumbuhan dan perkembangan, selalu ada insulin.

    Protein whey dari susu juga akan membuat level GH kita meningkat, GH manusia diberi nama Somatotropin. GH sangat penting agar kita dapat tumbuh tinggi.

    Selama masa puber, kadar GH pada manusia meningkat drastis. Itulah sebabnya para remaja mengalami pertumbuhan yang luar biasa.

    Apakah minum susu membuat anak-anak tumbuh lebih cepat?

    Semua hormon pertumbuhan dalam susu sapi sebenarnya untuk membuat anak sapi yang bertumbuh. Jadi, apakah berguna juga bagi anak kita?

    Sayangnya sampai saat ini belum ada penelitian yang bisa menunjukkan hubungan antara minum susu dan tumbuh tinggi. Bayi memang diwajibkan minum ASI, karena ASI itu memang dirancang untuk menumbuh kembangkan si bayi itu dengan cepat.

    Tapi saat kita sudah dewasa, apakah kita tetap harus menerima seluruh hormon yang memberi sinyal pada tubuh untuk terus tumbuh dan berkembang, pada saat kita sudah tidak seharusnya tumbuh lagi? Apa kira-kira yang akan terjadi?

    Susu dan Risiko Kanker

    Kasein pada susu akan memicu kenaikan IGF-1 (Insulin-like Growth Factor). Tapi IGF-1 ini selain terkenal akan kemampuannya dalam menumbuhkan sel baru, juga terkenal akan kemampuannya menumbuhkan sel kanker.

    Ada penelitian yang menunjukkan peningkatan konsumsi susu turut meningkatkan risiko terkena kanker, tapi juga ada yang menunjukkan sebaliknya. Jadi masih belum ada kesimpulan apa pun.

    Susu dan Jerawat

    Ada 2 tersangka utama dari kasus jerawat ini, yaitu susu dan karbohidrat.

    Lantas bagian mananya dari susu yang berpotensi menumbuhkan jerawat? Dari protein whey nya yang mengandung betacellulin.

    Tahukah kamu bahwa susu yang low-fat memiliki kandungan whey yang lebih tinggi? jadi semakin rendah kandungan lemaknya, maka semakin tinggi kandungan whey. Apalagi susu yang non-fat, maka ia memiliki kandungan whey tertinggi.

    Maka kombinasi antara makan karbohidrat dan susu low fat atau non sat yang merupakan kombinasi terbaik dalam pembentukan jerawat.

    Apakah susu menyebabkan anemia kekurangan zat besi?

    Pada bayi yang berusia kurang dari 1 tahun memang susu sapi berpotensi menyebabkan defisiensi zat besi. Mengapa?

    Karena protein dari susu sapi itu menghalangi penyerapan zat besi di usus bayi. Juga pada sekitar 40% bayi, susu sapi bisa menyebabkan pendarahan kecil pada usus, dan karena bayi kehilangan darah sedikit demi sedikit, dan di dalam darah ada zat besi, maka ia pada akhirnya akan mengalami defisiensi zat besi.

    Inilah alasannya mengapa bayi di bawah usia 1 tahun tidak dianjurkan untuk diberi minum susu sapi.

    KESIMPULAN Tentang Susu dan Produk Susu

    Susu sapi tidak diperlukan bagi kesehatan dan pertumbuhan manusia, oleh sebab itu sifatnya opsional saja. Mau boleh, tidak mau pun tidak apa-apa.

    Wanita yang minum susu secara rutin selama masa kehamilan cenderung untuk memiliki bayi yang lebih besar

    Bayi di bawah usia 1 tahun, atau 12 bulan, tidak dianjurkan untuk diberi minum susu sapi karena risiko defisiensi zat besi.

    Minum susu TIDAK mengurangi risiko tulang keropos, karena susu tidak terbukti memperkuat tulang dan gigi. Vitamin D yang lebih terbukti dalam pembentukan tulang dan gigi yang kuat.

    Protein whey pada susu sapi akan meningkatkan kadar insulin dan berbagai hormon pertumbuhan kita, yang juga akan meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan di masa depan.

    Mengonsumsi susu dengan alasan demi kesehatan sama sekali tidak masuk akal, karena tidak berdasar fakta ilmiah. Penelitian justru menunjukkan berbagai bukti negatif dari susu, serta tidak ada yang menunjukkan bukti positifnya.

    Tapi jika kamu memang menyukainya, dan minum susu tidak menyebabkan masalah apa pun, maka silakan saja teruskan. Dan saran saya selalu pilih susu yang FULL FAT. Karena penyebab masalah dari susu sapi adalah:

    1. Protein susu, dan
    2. Laktosa atau gula susu

    Karena susu yang rendah kandungan lemaknya pasti tinggi protein dan gula susunya (Baca: Karbohidrat), sedangkan sebaliknya pula, susu yang tinggi lemaknya maka kandungan protein dan gulanya pun lebih rendah, selain susu full fat (FULL CREAM) juga lebih enak rasanya bagi manusia.

    • Facebook
    • Twitter
    • Google+
    • Linkedin
    • Pinterest

    Leave a Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

    This div height required for enabling the sticky sidebar